Selasa, 25 November 2008

Waspadai Gangguan Saraf

dari Sinar Harapan

Kebanyakan pengendara motor memakai helm dimotivasi oleh peraturan lalu lintas, bukan kesadaran pribadi. Bayangkan kalau tiba-tiba saja terjadi kecelakaan. Bahkan sebuah helm sekali pun belum bisa menjamin pengendara motor selamat dari kecelakaan. Walau terhindar dari gegar otak, masih banyak luka lain yang bisa diderita.

”Di Amerika Serikat (AS), kecelakaan motor merupakan salah satu penyebab paling besar terjadinya brachial plexus selain tertembak senjata api dan bawaan saat lahir,” jelas Prof.Dr. Daniel H.Kim, ahli bedah saraf dari Jurusan Bedah Saraf Stanford University, AS kepada pers pada Workshop Brain and Spine Managament di Rumah Sakit Pantai Indah Kapuk (RSPIK), Jakarta, Kamis(3/7).
Pengertian istilah branchial plexus sendiri adalah sebuah jaringan yang terbentuk oleh serat-serat yang berada di antara bahu dan leher. Dari sekian banyak gangguan saraf, brancihal plexus ini menempati urutan tertinggi di negeri Paman Sam tersebut, yakni 1.019 kasus sejak 1968-2000.
Kim menjelaskan, di AS biasanya penanganan kasus seperti kecelakaan motor yang menyebabkan orang tidak mampu menggerakkan tangannya, dilakukan oleh seorang dokter ahli saraf. ” Di sana tidak aneh kalau ahli saraf menangani pasien semacam itu. Memang tampaknya kasus itu lebih cocok ditangani ahli tulang, tapi tidak selalu,” tambah Kim. Ini disebabkan penyebab ketidakmampuan pasien menggerakkan tangannya lebih dipicu oleh gangguan saraf, bukan sekadar otot. Branchial plexus sendiri terkait dengan sumsum tulang belakang, salah satu sistem saraf pusat tempat di mana berbagai gerakan tubuh mendapat perintah motorik.
Selain kecelakaan, kasus branchial plexus bisa disebabkan pula oleh trauma saat lahir. Sebanyak 90 persen kasus branchial plexus pada anak-anak diakibatkan oleh penarikan yang berlebihan ketika seorang bayi lahir. Menurut portal kesehatan E-medicine.com, potensi penderita gangguan saraf ini adalah satu atau dua orang bayi dari sekitar 1.000 kelahiran. Dari jumlah itu 80 persennya bisa pulih dengan cara operasi.
Pemicu branchial plexus lain adalah tertembak, keseleo atau peregangan urat saraf, juga pasien penderita kanker yang menjalani terapi radiasi terlalu lama. Setiap kasus ini bisa pulih dengan jalan bedah saraf, di mana setiap fungsi saraf diperbaiki letak dan kondisinya. Kim berpendapat, waktu pemulihan yang diperlukan oleh setiap orang setelah operasi berbeda satu sama lain. Semakin muda usia pasien, makin cepat pula pulihnya. Ini karena sel saraf memiliki sifat regenerasi atau memperbarui diri sendiri. ” Pada anak-anak biasanya bisa pulih dalam tempo beberapa bulan saja. Tapi pada orang dewasa bisa beberapa tahun,” tambahnya.

Tak Harus Bedah
Tindakan bedah tidak selalu harus diambil untuk menangani pasien branchial plexus. Masih bisa dilihat perkembangan kesehatannya sesuai dengan setiap kasus yang dihadapi. Pada kasus kecelakaan motor misalnya, bedah bisa ditunda hingga enam bulan untuk melihat apakah sel saraf bisa pulih dengan dibantu obat-obatan atau terapi fisiologi. Namun pada kasus tertembak atau terpotong sesuatu, bedah harus segera dilakukan bila memang langsung berhubungan dengan sel saraf yang rusak.
Di Indonesia, kasus branchial plexus tergolong banyak terjadi. Namun berdasar penuturan. Prof. Dr.Satyanegara,MD,Sp.BS, Senior Director RS PIK, belum ada data statistik khusus yang mencatat angkanya. Bisa jadi kasusnya lebih banyak dari yang diketahui.
” Sumsum tulang belakang merupakan pusat dalam otak. Untuk menggerakkan organ tubuh, otak memerintahkan jaringan tersebut dan menyampaikannya pada setiap bagian tubuh,” jelas Satranegara kepada pers dalam kesempatan serupa. Maka setiap terjadi kecelakaan yang mengenai sumsum tulang belakang bisa berakibat kelumpuhan. Yang menjadi kendala dalam penanganan kasus saraf di Indonesia adalah kerumitan sistem saraf manusia yang membuatnya sulit diketahui kelainannya.
Namun kini Indonesia mulai mengenal teknik operasi dengan mikroskop, sehingga bagian sel saraf terkecil sekali pun bisa terlihat jelas. ” Dengan begini maka bisa dibedakan dengan mudah mana saraf normal dan tidak normal, sehingga pembedahan bisa meminimalisir gangguan fungsi bagian saraf lain,” tutur Satya. Kendala lain adalah alat operasi yang ada di Indonesia mayoritas belum memiliki kadar sensitivitas setinggi alat operasi di negara maju.
Di RS PIK, kasus gangguan sumsum tulang belakang dalam satu tahun bisa terdapat tiga hingga lima kasus. Sedangkan gangguan saraf otak hampir ada setiap hari. Satya berpendapat, penyakit yang berhubungan dengan saraf di Indonesia masih belum tersosialisasi. Ketika seseorang mengeluh sakit kepala, ada banyak hal yang memicunya, salah satunya adalah gangguan saraf. Namun ia mengaku agak bingung mensosialisasikan penyakit saraf ini, sebab jika setiap sakit kepala selalu dicurigai sebagai kelainan saraf, maka bisa-bisa setiap orang dihantui ketakutan.
Dibanding dengan negara maju, rumah sakit yang menangani penyakit saraf masih sangat terbatas. Di Jepang misalnya, ada yang bernama ”Brain Doc”, yakni sebuah pusat pemeriksaan khusus otak. Dari pemeriksaan pusat-pusat saraf di Jepang, diketahui bahwa setiap 400-500 orang, enam persennya menderita kelainan pembuluh darah yang bisa berimbas stroke.
Gangguan saraf tidak selalu harus berakhir di kamar operasi. Pada kasus gangguan saraf ringan masih bisa tertolong dengan tindakan pemberian obat atau terapi fisiologi. Namun Satya menyarankan, begitu seorang pasien sudah memiliki gejala kelumpuhan, maka tindakan operasi harus segera dilakukan sebelum sistem saraf benar-benar rusak dan tak bisa dipulihkan. Sebab jika tidak maka pasien bisa menderita kelumpuhan selamanya.
Sampai saat ini kasus kelainan saraf yang ada di RS PIK sendiri 40 persennya adalah gangguan sumsum tulang belakang, 40 persen adalah tumor otak, 20 persen lagi adalah stroke akibat kelainan pembuluh darah. Kualitas pemulihan atau recovery yang dialami pasien tergantung pada kondisi setiap kasus. Seperti pada kasus tumor otak, sangat tergantung pada lokasi tumor itu berada. ” Biasanya pada kasus kelainan sumsum tulang belakang, pasien bisa pulang setelah menjalani rawat inap dua hari sehabis operasi. Tapi kalau tumor sumsum tulang belakang bisa dua minggu,” demikian Satya. Maka, jangan sesekali menyepelekan saraf. Walau dari luar tak kentara, tapi cukup vital fungsinya.(mer)

Tidak ada komentar: